Minggu, 12 Juli 2015

Dear Future Husband,

Pertama saya ingin mengucapkan terima kasih kepada kamu yang telah bersedia memilih saya untuk menjadi orang pertama yang kamu lihat ketika bangun dan orang terakhir yang kamu lihat ketika akan pergi tidur, setiap harinya. Semoga, ketika kamu memutuskan untuk menghabiskan hidup bersama saya, kamu masih dalam keadaan cukup sehat secara psikologis. 

Saya memang bukan perempuan feminin yang mungkin selalu kamu dan kaum seperti kamu idam-idamkan. Saya bukan perempuan yang gemar atau pandai memasak. Tolong katakan pada ibumu, jangan khawatir. Karena saya tidak akan membiarkan putra kesayangannya -yang akan menjadi ayah dari putra-putriku kelak- kelaparan dan mendapatkan gizi yang kurang baik. Karena semenjak saya memutuskan untuk memulai lembaran kehidupan baru bersama kamu, saya pasti sudah menguasai resep makanan favorit yang diberikan oleh ibumu. 

Saya juga bukan sosok perempuan yang romantis, jadi kamu tidak perlu khawatir. Saya tidak akan menuntut kamu untuk membawakan bunga setiap kita sedang bersitegang. Yang terpenting untuk saya adalah kamu tetap pulang dan tidur di rumah setiap harinya dalam kondisi apapun, seburuk apapun. Karena separah apapun kita bertengkar, saya akan tetap membutuhkan sosok kamu di sisi saya, walaupun tidak ada satu kata pun yang terucap dari mulut kita. 

Setiap paginya, saya akan selalu menjadi alarm kamu untuk bangun tepat waktu dan menjalankan ibadah berjamaah. Karena saya mau hanya kamu yang ada satu shaf di depanku, menjadi imam shalatku. Setelah itu, saya akan membuatkan sarapan dan bekal yang akan kamu bawa ke kantor. Iya, saya tidak akan pernah membiarkan kamu jajan sembarangan. Saya juga akan selalu memastikan bahwa kemeja dan dasi kerjamu dalam keadaan licin setiap paginya, tanpa ada tekukan-tekukan yang tidak diinginkan.

Saya memang perempuan yang hobi belanja dan menghabiskan uang untuk membeli barang-barang keperluan pribadi saya, terutama pakaian, tas, dan sepatu. Namun, kamu jangan khawatir. Karena saya akan tetap memprioritaskan keperluan keluarga kita di atas apapun. Dan kamu juga tidak perlu khawatir akan masalah keuangan kita nanti, saya bisa dibilang cukup menguasai dasar-dasar ilmu akuntansi yang akan saya terapkan dalam mengurus pemasukan dan pengeluaran kita setiap bulannya. Oh iya, untuk masalah hobi belanjaku, kamu tidak perlu cemas. Karena saya bisa pastikan dari sekarang, saya akan menggunakan seratus persen uang hasil jerih payahku sendiri. Oleh karena itu, saya mohon biarkan saya untuk tetap bekerja. 

Pekerjaanku nanti mungkin sedikit berat. Atau mungkin, nantinya saya akan sering membawa pekerjaan kantorku untuk dikerjakan di rumah. Karena saya tidak ingin melewatkan makan malam bersama kamu dan anak-anak kita di atas satu meja sederhana. Karena saya juga ingin menjadi orang pertama yang mendengarkan keluh-kesah kalian selama satu hari beraktivitas. Apabila kamu merupakan tipe orang yang cukup serius, jangan khawatir. Saya akan berusaha mencairkan suasana makan malam kita supaya menjadi lebih hidup. Akan tetapi, mohon maafkan saya dari saat ini, karena saya yakin selera humor saya beberapa tahun ke depan akan tetap sama. Iya, selera humor saya receh. Tapi saya berjanji, akan terus berusaha membuat kalian bahagia dan nyaman di rumah.

Maafkan jika saya nantinya akan menjadi seorang pendamping hidup yang bawel karena akan terus mengingatkan kamu untuk ibadah dan memaksa kamu untuk cek kesehatan setiap bulannya. Iya, saya tidak ingin ada sedikit virus pun di tubuh kamu. Maaf jika setiap minggunya saya akan mengajak kalian untuk pergi keluar rumah, mengeksplorasi setiap sudut yang belum pernah kita kunjungi. Maaf pula jika setiap malam di meja makan kita akan tersaji cukup banyak sayur-sayuran, karena saya ingin keluarga kita menjadi keluarga yang menganut pola hidup sehat. Tapi, untuk poin ini saya minta kepada kamu. Tolong paksa saya untuk work-out, seringan apapun itu.  

Seletih-letihnya saya bekerja, saya akan mengusahakan tiba di rumah sebelum kamu. Supaya ketika kamu sampai, saya sendirilah yang akan membukakan pintu dan membawakan tas kantormu. Saya juga bisa pastikan, setiap kamu pulang kantor tidak akan ada penampilan saya yang akan mengecewakan kamu. Iya, saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk tetap terlihat cantik di depan kamu, seletih apapun saya. Karena yang terpenting untuk saya adalah, kebahagiaan kamu. Saya tau, kamu tidak akan menuntut saya untuk menggunakan make-up setiap harinya, tapi saya akan usahakan untuk tidak tampil lusuh di depan kamu. 

Saya adalah perempuan yang cukup memperhatikan kerapihan, terutama tata letak. Jadi, izinkan saya untuk mengatur semua tata letak barang-barang yang ada di rumah. Saya bisa jamin, kamu tidak akan kecewa. Saya juga cukup cakap dalam bersih-bersih rumah. Jadi, kalau kamu tidak ingin mengeluarkan anggaran yang cukup besar untuk menggaji jasa asisten rumah tangga, kamu bisa mengandalkan saya. Bayaran saya murah sekali, cukup melihat kamu tersenyum setiap pulang dari kantor, saya sudah cukup. 

Kamu pasti tau aku penyayang binatang. Jadi, saya mohon izinkanlah saya mempunyai binatang peliharaan di rumah. Kamu tenang saja, saya bukan perempuan yang gemar mengoleksi binatang-binatang ekstrim. Kamu tidak akan pernah melihat ada iguana, buaya, ular, biawak, atau komodo sekalipun di dalam rumah kita. Karena jujur, itu menjijikkan. Saya hanya minta diizinkan untuk memelihara kucing atau anjing, yang bisa menjadi pelengkap di keluarga kecil kita. 

Saya memang masih belum punya bayangan, siapa kamu. Yang terpenting untuk saya siapapun kamu nantinya, kamu adalah imam terbaik yang diamanahkan oleh ayah saya untuk menjaga dan melindungi saya sebaik yang pernah Beliau lakukan kepada saya. Apapun pekerjaanmu nanti, bukan masalah. Saya bukan tipe orang yang nyaman untuk duduk diam menunggu sementara kamu susah payah berusaha untuk membahagiakan saya. Saya pastikan, ketika kamu sulit saya juga sulit, dan ketika kamu bahagia saya akan menjadi orang pertama yang merasa lebih bahagia karena menyaksikan kebahagiaanmu. 

Saya tau kamu pasti tau kalimat, "Ada wanita hebat dibalik laki-laki yang hebat". Saya akan berusaha sehebat itu untuk kamu. Saya akan menjadi satu-satunya wanita hebat yang kamu miliki dan patut kamu banggakan. 

Siapapun kamu, dari saat ini saya pastikan, nantinya aku akan sangat tidak ingin kehilangan kamu dan satu momen pun bersama kamu. Karena pasti kamu akan seberarti itu untuk saya, kelak. 

Sampai jumpa di waktu yang sudah Tuhan tetapkan. 

Rabu, 10 Juni 2015

BANG!!!!

Welcome di entri blog gue yang sudah mulai cheesy lagi. 
Maklum ya, sebentar lagi liburan. Jadi gue harus siap-siap LDR sama orang yang kenyataannya bukan siapa-siapa gue dia. *kemudian now playing: Too Late - 5SOS* 
Orangnya emang lucu banget sih, minta dimilikin banget. Tau orangnya gak? Nggak ya? Yaiyalah, orang gue gak pernah ngepost nama maupun inisialnya di sini. 

Sebenernya gak usah diceritain juga, sih. Cukup dengan ngedengerin Too Late - 5SOS, cerita gue sudah terwakilkan. Jadi, kalau ada yang mau tau (tapi gue yakin nggak ada), silahkan browsing ya mbak dan mas-nya. Cukup masukkan keyword "too late 5 seconds of summer" dan jengjeng akan keluar banyak pilihan untuk itu. Kalau udah denger, coba diresapi liriknya. Niscaya, kamu akan segera menjadi orang se-cheesy saya hari ini. 

Jadi, pagi ini gue menyempatkan diri untuk nulis blog karena udah beberapa hari kepending terus mau ngeblog. Dan pas banget emang suasananya lagi hellow mellow gini. 

Banyak yang bilang, kalau suka sama seseorang itu harus jujur. Harus berani untuk bilang. Palelo! Siapa sih tuh yang ngomong? Dikata gampang kali ya ngomong begitu di depan crush. Boro-boro buat bilang begitu sih, kalo ngeliat dia dari jauh aja rasanya ini jantung udah dag-dig-dug-jeder, gimana pas ngomong? Bisa pingsan dua minggu. 

Dan banyak juga yang bilang, kalau gak disampaikan nanti dia keburu diambil orang. 
BANG!!!! 
Nah, ini nih yang sering terjadi di kota-kota besar. Kebanyakan memendam hingga akhirnya tak tersalurkan. Mungkin emang bener, kalau suka ada baiknya jujur. Ada baiknya. Kalo gak mau jujur juga gak apa-apa, orang gak ada yang maksa juga. 

Tapi, kalo gak mau jujur ya jangan nyesel kalau nanti semuanya terlambat. Kalau nanti dia udah gak sepeduli itu sama lo. Kalau nanti pandangannya udah bukan buat lo lagi. Dan kalau nanti senyum yang dulu dia ulas cuma buat lo, nyatanya udah bukan punya lo lagi. 

Iya, menyesal sesakit itu. Bahkan sebelum sempat memiliki, tapi sudah kehilangan. Padahal baru mau saling menyamankan diri, namun nyatanya ada yang lebih nyaman dari sisi ini. Bukan, disini tidak menyalahkan orang lain yang juga suka sama orang yang sama. Sama sekali tidak. Di sini hanya menyalahkan perasaan gengsi yang masih gak mau ngalah cuma buat berkata jujur demi mendapatkan hati seseorang. 

Emang nyatanya, jujur gak semudah itu. Jujur untuk bilang suka memang lebih sulit dibandingkan dengan berbohong untuk bilang tidak. Tapi, jujur bukan cuma dari mulut. Kalau seandainya dia peka, dia pasti tau lo jujur dari pandangan lo. Dari cara lo tatap dia. Tapi sayangnya, cowok peka itu hampir punah, girls. 

Imbas dari ketidakjujuran itu juga gak enak. Ngeliat dia sama orang lain, mau marah tapi bingung. Ngeliat dia senyum ke orang lain, mau cemburu tapi bingung. Ngeliat dia perhatian sama orang lain, mau ngacak-ngacak jamban juga bingung. Itu semua karena "lo-bukan-siapa-siapanya-dia". Gue ulang. Bukan siapa-siapa. 

Sabtu, 06 Juni 2015

So Happy To Say Goodbye To 4th Semester.

Good morning, fellas! It's Sunday and *ehm* (I really want to scream at this part) HAPPY HOLIDAY GUYS! 

Pagi ini keindahan mood gue is sponsored by a reward from one of the best coffee shop in this fakin warld! 

By the way, 
THE FAKIN 4TH SEMESTER IS OVER GUYS! IT'S OVER! 
Sumpah kusenang sekali. 
Setelah mengalami masa-masa berat di semeter ini dilengkapi dengan ketidakjelasan Ujian Akhir kemarin. Gue merasa uang bayaran gue sangat kelebihan untuk bayar semesteran di semester 4. 

Gue akan bercerita sedikit tentang kehidupan perkuliahan gue which-is-very-very-fakin-terrible-oh-my-god-i-will-die.
Sebenernya begitu gue memasuki semester 4 pada awal tahun lalu, gue seneng sih. Karena gue bisa membayangkan bahwa gue (inshaallah) akan melenggang indah menggunakan kebaya dan berjalan di lorong Balairung bersama teman-teman seangkatan gue pada pertengahan 2016 nanti. Iya, bayangan gue udah sampe situ dan itu yang jadi motivasi gue semangat kuliah. Supaya cepet selesai dan gak buang-buang duit di kampus muluk. 
Akan tetapi, motivasi memang indah. Yang gak indah adalah kenyataan. Iya, kenyataan hidup perkuliahan gue di semester 4 ini cukup pahit, gengs. Kuliah-organisasi-tugas-kuis-ujian-jobdesc organisasi-tanggung jawab. Itu semua yang gue tanggung di pundak gue selama semester 4 dan inshaallah semester 5 masih akan tetap begitu #YAALLAH #KUATKAN #HAMBA
Sebetulnya gue menikmati semua beban itu, terlebih itu adalah konsekuensi yang harus gue tanggung atas keputusan gue sendiri. Iya, gue memutuskan untuk menjadi mahasiswa yang cukup aktif di kampus dengan ikut organisasi. Oleh karena itu, gue sadar kehidupan kampus gue akan sedikit berbeda dengan teman-teman lain yang gak ikut organisasi. Kehidupan kampus gue sedikit lebih berat dibanding mereka dan gue mengemban dua tanggung jawab sekaligus. Tanggung jawab terhadap diri sendiri atas prestasi akademik gue di kampus, dan tanggung jawab untuk organisasi yang gue sudah berkomitmen untuk berkontribusi penuh di dalamnya. But, sebelumnya organisasi itu bukan sekedar organisasi. Gue lebih senang menganggap orang-orang di dalamnya sebagai keluarga dibanding rekan kerja. 

Disini gue gak akan bahas banyak mengenai keluhan-keluhan gue di kampus. Karena sesungguhnya mengeluh itu tidak baik guys, lebih baik melenguh #ASTAGHFIRULLAH
Di semester 4 ini gue belajar banyak hal. Gue belajar untuk lebih menghargai sedetikpun waktu luang yang gue punya untuk membereskan pekerjaan gue, dibanding untuk tidur. Tidur sepantasnya dilakukan jika semua pekerjaan gue sudah terselesaikan dengan baik dan (inshaallah) benar. Gue dan teman-teman sekelas gue mempunyai banyak tugas akademik yang (naujubilahiminjalik) cukup berat bebannya dan gue pribadi mempunyai kewaiban tambahan untuk menyelesaikan tugas-tugas organisasi yang cukup melelahkan juga. Bahkan gue sempet mikir, "Anjir ini mah satu hari isinya 24 jam gak cukup, harusnya 48 jam, atau kalo bisa 72 jam", iya se-hectic itu. Tapi dari tugas-tugas itu gue belajar untuk mengorbankan sesuatu untuk satu yang lebih penting. Dari sini juga sisi perfeksionis gue sebagai orang dengan golongan darah A semakin terlihat. Gue akan berusaha menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan gue terlebih dahulu dengan mengesampingkan urusan pribadi gue yang bisa disambi lain waktu, dan pekerjaan itu harus selesai dengan sebaik yang gue bisa. Tapi gue gak bisa memungkiri bahwa gue masih cukup teledor, terlebih di pekerjaan organisasi. Untungnya gue punya partner yang sangat teliti dan bisa menutupi keteledoran gue #UHUY #TERIMAKASIHFANESTRI

Yah, selain belajar untuk lebih menghargai waktu, gue juga belajar untuk menjadi partner kerja yang menyenangkan. Semua orang tau gue egois, sangat egois. Tapi di semester 4 ini gue mencoba untuk lebih mementingkan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi. Karena gue gak mau mengecewakan banyak orang hanya karena seonggok sifat egois gue. Gue akan berusaha semaksimal mungkin untuk membuat teman-teman di sekitar gue merasa bahwa gue bisa diandalkan. 

Dan yang terakhir dan paling penting, gue menjadi orang yang lebih bertanggungjawab atas semua pekerjaan gue. Biarpun terkadang hal-hal yang gue kerjakan gak semuanya perfect, tapi gue akan berusaha semaksimal mungkin untuk membuat semua itu terlihat pantas dan baik. Dan kalaupun ada kesalahan-kesalahan yang gue buat, gue akan bertanggungjawab atas itu semua. Konsekuensi harus diterima sebagai bukti dari loyalitas dan totalitas. 

Jadi, dalam entri ini kesimpulannya adalah semester 4 telah mengajari gue banyak hal-hal baik yang baru, yang bisa merubah diri gue ke arah yang lebih baik, yang bisa membuat gue lebih bertanggungjawab atas apa yang gue lakukan, dan bisa membuat gue lebih percaya diri dengan kemampuan yang gue punya. Karena semester 4 tidak hanya mempunyai sisi buruk, tapi ia juga mampu mengubah gue menjadi seseorang yang lebih baik dan inshaallah siap bekerja di bawah banyak tekanan di masa depan. 

Dear 4th semester, 
I can't prentend to say that I like my life when I'm in you, 
I hate you for sure, 
but there's always a thank you for many lessons you have, 
for many lessons you give, 
for many experiences I've passed in you. 
And now, 
proudly and happily, I will scream 
Goodbye 4th Semester  

Sabtu, 30 Mei 2015

Dear,

I know that it's too late,
too late, 
to realize, 
to change this fuckin' situation

I remember, 
the first time we met,
in the small dimension,
I caught your gaze, successfully

But, damn
I never realized 
that you were gazing at me, 
not only for once, 
but through and through

You gazed me firstly, 
now I'm gazing you, 
I know that you realize, 
and I know that you're pretending

Damn, 
karma is around me now, 
I do not know why, 
why could I drowning so fuckin' deep,
in your fascination

Pardon me, 
I'm too prestige, 
to confess this feeling, 
and I'm too expert,
to be a good pretender 
to be a good liar
to hide expressions
and to be your (not really) secret admirer.

Dear, 
a boy who always caught my eye. 

Sabtu, 16 Mei 2015

Sekelebat Problematika.

Iya, gue tau judulnya agak sok-sok gimana gitu. 
Kenapa gue buat judulnya begitu? 
Nggak apa-apa sih, cuma mau caper doang. 

Kesel gak?! Kesel dong!


Nah, di entri ini sekarang gue mau ngabahas soal sebuah persahabatan yang terjadi antara dua insan manusia yang berbeda jenis kelamin. Kenapa gue mau bahas ini? Sekali lagi, nggak apa-apa cuma mau caper doang. Eh tapi nggak deng, gue mau nulis ini karena ini sering terjadi di kota-kota besar, Bung.

Jadi, semakin ke sini gue melihat banyak orang yang punya teman dekat, maksud gue sahabat, tapi lawan jenis. Sebenernya, ini udah biasa banget sih. Karena emang banyak banget yang punya sahabat lawan jenis, termasuk gue. Nah, dari hubungan persahabatan lawan jenis ini pasti ada lah dampak positif sama negatifnya. Iya, gue udah paham banget soal ginian. Apalagi soal dituduh macem-macem karena punya sahabat cowok. 

Problematika yang sering muncul di hubungan persahabatan ini adalah dituduh naksir sama sahabat sendiri. Ini udah yang paling shit yang pernah gue rasain. Iya, seperti di entri sebelumnya gue pernah bilang kalo gue punya dua sahabat laki-laki, dan entah kenapa banyak banget yang salah persepsi soal itu.

Banyak yang bilang, "Kalo ada cewek sama cowok yang sahabatan, itu pasti gak murni sahabatan. Pasti salah satu atau salah dua dari mereka ada yang suka". Gue mau bilang, berdasarkan kasus pribadi gue, itu salah. 

Iya, karena gue dan kedua sahabat terong-terongan gue gak begitu. Semua orang yang punya sahabat lawan jenis mungkin pernah ngerasain hal itu. Dan sebagian mungkin emang ada yang mendem perasaan buat sahabatnya sendiri, tapi gak semuanya kayak gitu.

Gue dan kedua terong-terongan itu murni sahabatan tanpa ada yang suka satu sama lain. Gue masih bingung aja sama pola pikir orang banyak, kalo ada cewek sama cowok deket berarti mereka ada apa-apa. Hello, situ idup jaman kapan dah? Jaman spongebob masih pake baju purba? 

Sebenernya sih di entri ini gue cuma mau menekankan bahwa gak selamanya perempuan dan laki-laki yang sahabatan itu punya rasa yang lebih. Gak selamanya dan gak semuanya. Mereka yang diomongin tuh sebenernya ngerasa risih loh, dapet omongan kayak gitu. Terlebih kalo sahabatnya dia punya cewek/cowok. Emang gak kasihan kalo mereka dianggep perebut pacar orang (yang padahal dalam kenyataannya nggak sama sekali)? 

Mereka (gue juga sih) tuh memutuskan buat ngejalin persahabatan bukan karena ada rasa lebih, tapi ya karena mereka ngerasa kalo mereka nyambung dan nyaman buat curhat satu sama lain, nyambung buat ngehujat orang yang sama-sama mereka benci #ASTAGHFIRULLAH, nyambung buat saling ngatain tai, anjing, babi, monyet tanpa ada yang sakit hati, dan nyambung buat urusan selera humor yang cetek kayak becekan bekas gerimis semalem. 

Pokoknya gue cuma mau ngingetin aja lewat entri ini. Kalian -yang suka nuduh sebuah jalinan persahabatan lawan jenis- dimohon dengan sangat jangan suka nuduh yang nggak-nggak kalo emang gak ada bukti. Ya, buat contohnya gue sama dua temen gue deh. Gue emang deket banget sama mereka, gue akuin kalo ketemu mereka pun gue seneng banget. Kenapa? ya karena lo suka lah, nim. Bego deh. Tetot!!! Lo yang salah. Gue sesayang itu sama mereka. Sayang disini bukan berarti kayak sayang sama pacar ya. Sayang disini tuh kayak.....kayak apa ya? Kayak sayang sama sahabat lo, yang lo gak rela kalo mereka punya sahabat lain sih #YEU #EGOIS. Ya, pokoknya gitu deh rasanya, masa lo gak pernah ngerasain sih??? Apa jangan-jangan lo gapunya sahabat lawan jenis? Mampus kasian, makanya jangan suka nuduh orang sembarangan #EEEEEEMALAHNGEGAS. Maap maap. Maksudnya gimana ya......ya gitu deh. Lo kalo punya sahabat juga pasti ngerti deh rasa sayang ke sahabat sama pacar tuh bedanya kayak apa. Makanya gaes, janganlah suka nuduh yang nggak-nggak. Rapunjel pusing lah berantem mulu sama terong-terongannya rapunjel gara-gara salah paham, gara-gara dengerin omongan dari congor orang. Makanya lah gaes, congor itu dijaga lah. Kalo ndak dijaga kasihkanlah saja itu congor ke tukang rujak. Barangkali bisalah jadi bisnis rujak cingur (?)

Bahkan gara-gara omongan orang itu gue sampe baper banget asli, sampe delete contact sama ngeblok akun temen gue #MAAPYAOX cuma buat ngilangin gosip-gosip nggak enak kayak gitu. Untung gue orangnya gak betahan kalo ada masalah sama orang -terutama orang-orang terdekat-.

Ya, jadi intinya disini aq cuma mau ngingetin x.an jha. Jangan suka ngejudge sembarangan. Kalo kata Aurel Hermansyah, "NANTI DIMARAHIN TUUUUUHAAAAAAAAN~~~~"

Selasa, 12 Mei 2015

Some People That Always Be Here.

It's been a long day since our first meeting.
We already had so much time to spent, so much words to said, so much tears, and so much laughters.
Sometimes, we argued, but we still bestfriend.
Sometimes, we fight, and we still bestfriend.
Sometimes, we cried, cause we knew we miss each other.
And there's no sometimes to laughs together, cause it always.

Dear you all,
Some people that have positions after family.
Some people that always never getting bored when I always talk all day long (I know that you're all getting bored, exactly, but I do not care :p)
Some people that always stay with my plus or minus.

I really want to tell you,
It's not only for one of you, but you all.
I really want to give you so much thank you, cause you all deserve of it.

Thank you for always be here, be my side, with all of my conditions.
Thank you for always be the best ears in this world.
I really be blessed by God, cause He gave me you all.
I really be greatful cause I have some ears to hear mine, some hands to catch me up, some mouths to support me, and some shoulders to be propped.

Baby,
You are all my precious, more than a boyfriend (I wish I had)
Nobody care at me, but you.

So, baby
Please always stay,
please always be my favorite ears to share,
please always be my favorite shoulders to lean back,
please always be my favorite mouths that can be saying the magical supporting words.

But baby,
Do not you worry about anything.
Cause I'll be your favorite partner to share your life story with.
You can call me anytime,
cause I always have times for you all,
cause I do not want to skip your important moments (even if I know that the moments were not very important to know, but I still will)

So baby,
I write this entry to show you,
how much precious you are,
how lucky I am to have you,
and how much I love you for sure.

If there are people who had so many friends,
I just have less friends,
but I still the luckiest,
cause I have so many bestfriends,
and  I'm feeling so blessed,
cause I know my bestfriends, are you.

Minggu, 03 Mei 2015

Memori (Part 1)

Hello, bloggers!
Dan hell-o juga untuk para pembaca setia blog gue, yang tak lain dan tak bukan adalah tiga gadis-gadis kesepian yang ada di multiple chat paling baper se-line raya. Sebut saja mereka Mawar, Melati, dan Semuanya Indah (nama dan suara disamarkan) #LAH #DIKIRAINVESTIGASI
Yak pokoknya buat Mawar, Melati, dan Semuanya Indah saya mohon dengan sangat habis baca entri ini, gak usah pada bacot di chat room, paham? :)
Sebelumnya juga, gue mau mengurangi publikasi entri-entri yang bikin temen-temen gue yang sudah gue sebut identitasnya di atas menjadi semakin baper. Karena, jikalau mereka baper, maka semua orang akan tertular. Jadi, untuk beberapa kali ke depan entri gue akan jauh dari seputaran masalah hati yang akan membuat kepala barbie ini pusingnya bukan main. 
Now, we start!

Rabu, 29 April 2015

MY OTHER HALF

Udah lama sih gak ngepost yang random. Maklum, belakangan ini teman gue lagi pada berubah jadi bangsat semua, jadi pada bikin baper. Jadi, mohon dimaafkan apabila banyak post gue yang memiliki konten menjijikkan (bahkan gue yang nulis pun terpana, kenapa gue bisa semenjijikan itu). 

Berhubung sekarang gue lagi merindu sama banyak orang yang terlampau deket sama gue (baca: sahabat), jadi gue akan sedikit membicarakan mereka disini. Ya, gak tau sih bakal jadi sepanjang apa. Soalnya, ya soalnya gue sekangen itu sama mereka. 

Well, ya. Gue semenjak TK udah punya satu orang teman baik yang growing up together, dan untuk jenjang-jenjang selanjutnya pun begitu, masing-masing dari mereka juga punya porsi masing-masing di hidup gue. Entah gue yang terlalu mudah menganggap seseorang sebagai sahabat gue atau gimana. Tapi yang jelas, ya emang sebutan terbaik untuk mereka ya itu. 

Sahabat sejak TK gue namanya Icha (mohon diperhatikan penulisannya). Ya, yang namanya udah kenal dari TK mah gimana ya. Gue udah kenal banget baiknya dia kayak apa dan dia udah tau banget busuknya gue sebau bangkek yang udah mati 3 hari. Iya, sebegitunya. I told her everything, and she did the same thing. Sekarang orangnye ada di Bandung, nah gue di Depok. Doi di tempat adem, gue di tempat panas. Doi tambah putih, gue makin gak keliatan. Yah, gue sama dia emang banyak bedanya (tapi dia yang bagian bagus, gue yang bagian jelek-jeleknya). Depok-Bandung emang gak jauh sih, tapi kalo jadwal gue yang sebegininya, wajar dong kalo gue kangen gara-gara gak sempet nyamperin doi ke sana. Asli sih, gue kangen cerewetnya karena biasanya doi yang paling ngotot ngelarang gue diet-dietan segala. Yah, Cha. Situ enak mau makan dua baskom juga gabakal gendut. Lah, saya mah minum aer aja naik sekilo. 

Di tingkat SD.....sahabat terbaik gue ya tetep Icha. Jadi, gue gak akan mengulas dia lagi disini. Nanti berat sebelah dikira pilih kasih. 

Nah...SMP nih. Menurut gue, gue paling punya banyak sahabat pas disini. Karena di masa ini, temen yang memutuskan untuk berada di samping gue sampai saat ini bukan temen yang fake. Buktinya adalah....mereka kenal gue sejak gue alay dan punya geng yang namanya naujubilahiminjalik alay banget sampe gak sanggup nyebutinnya, dan sampe saat ini mereka masih stay. 
  1. Maulana atau gue lebih seneng manggil dia Jenong. Yah. Karena emang kenyataannya begitu. Doi bisa dibilang my first boy bestfriend gue. Gue udah kenal dia dari kelas 7, sejak kita terdaftar di organisasi yang sama, selalu dipasangkan menjadi partner dalam lomba ketangkasan tandu yang berlanjut sampe SMA (bahkan sampe sekarang pun doi tetap jadi my best partner walaupun kita selalu dapet piala masing-masing, gapernah berdua menangnya). Walaupun doi sering banget ngeselin, berantem seminggu 3x, tapi kita selalu punya alesan buat baikkan. 
  2. Dita yang proses kenalnya gak jauh beda sama Jenong. Gue kenal dia dari kelas 7, ya karena kita sekelas juga sih, kebetulan juga satu organisasi, dan pernah naksir orang yang sama. Shit. Di bagian ini gue merasa jijik. Walaupun anaknya keras kalo dibilangin macem batu kali, tapi gue gak pernah yang namanya berantem sama doi. SAMSEK. SAMA SEKALI GAK PERNAH. HOREEEEEEEE. 
  3. Azi. Doh kalo yang ini mah susah banget jelasinnya. Panjang banget. Tapi yang pasti Azi ini anaknya baikkkkkkkkkkkkkk banget. Overload. Yah walaupun dulu sempet perang dingin tanpa alasan yang jelas yang sampe sekarang pun gue gatau gara-gara apa. Kadang sedih sih, kenapa dulu gak ambil kuliah di Jogja aja. Jujur sih...gue gabisa banget yang namanya jauh-jauh dari dia. 
  4. Aliffia, ini sih baiknya lebih overload dari Azi. Walaupun dulu kita sempet slek gara-gara seseorang yang gak jelas. Dan kenapa juga kita harus berantem gara-gara dia ya, Lif? HAHAHAHA. Nyesel sih sempet berantem juga sama dia, heran, kita bisa selabil itu dulu. Jadi jijik sendiri, asli. 
  5. Mega yang sering dipanggil Esti, dan gue yang sering dipanggil Mega. Ya, karena kita semirip itu. Bahkan sampe sekarang. Kita bisa dibilang kembar, cuma beda di rahim sama asal spermanya(?)..  
Lanjut ke jenjang yang menurut banyak orang adalah masa-masa paling indah semasa hidup. SMA. Menurut gue pribadi, gue malah lebih bahagia di zaman SMP dibanding SMA, tapi biarpun begitu bukan berarti gue gak menikmati masa SMA gue. Gue sangat menikmatinya, hingga gue juga mendapatkan teman dekat yang sangat-sangat gue sayang hingga saat ini. 
  1. Ica. I-C-A (gak pake H)(kalo pake H jadi ICAH)(lah mulai ngawur). Iya, Ica. Sahabat terbaik gue di SMA dan selalu jadi nomer satu buat gue. Walaupun kita sering banget cekcok sampe kata-kataan, sampe bermusuhan berhari-hari. Tapi ya gimana, lo seempet-empetnya sama sahabat sendiri, lo pasti bakalan kangen saat-saat lo lagi having qtime sama mereka. Ya, itu yang gue rasain. Walaupun, emang setiap kita berantem di ujung permasalahannya gak pernah ada kata "maaf". Karena iya, kita segengsi itu untuk minta maaf. Dan gue juga gak ngerti sejak kapan, pokoknya setiap gue dan dia ulang tahun, kita harus punya waktu buat ngadain day out berdua. Ya, mungkin kalo gue punya pacar, pacar gue boleh cemburu sama dia, karena pasti pacar gue akan kalah segalanya sama dia. Pacar gue gak akan lebih mengenal gue dibanding Ica, gak akan pernah selalu tau kapan gue butuhkan tanpa gue harus bilang kayak Ica, dan pacar gue gak akan mengetahui aib gue sedalam yang Ica tau. Ya, gue sepercaya itu sama dia. 
  2. Puji, si tukang gigit paling kesayangan, yang selalu mau dicurhatin tentang Gilang (DULU) sampek kupingnya panas. Maafin aku ya, Puji:* Entah kenapa gue juga gak tau, walaupun kita jarang banget ketemu karena susah ngepasin jadwal kuliah, tapi gue selalu ngerasa sekalinya kita ketemu, gak ada yang berubah dari kita berdua. Tetep sama. Anaknya tetep asik, baik banget, bawel dan yah.......suka foto. Seneng banget sih bersyukur bisa diketemuin dan dikenalin sama Puji yang sebaik ini. 
  3. Desy, dari yang dulunya sekelas pas kelas X, gak deket, sampe disatuin lagi di kelas XI dan XII yang bikin kita berdua ditambah Puji jadi lengket, gak bisa dipisahin. Yang gengsian juga, yang kalo berantem kerjaan cuma diem-dieman berhari-hari. Bayangin aja, gue, Puji, Desy sekelas bertiga, duduk deketan, yang biasanya kemana-mana bareng, sekalinya berantem diem-dieman. Tapi ini yang bikin kangen. Walaupun lagi berantem, sebenernya kita bertiga sadar kalo masing-masing dari kita ngerasa kehilangan. Akhirnya kita bertiga sama-sama gak tahan lagi buat perang dingin, dan mutusin buat baikkan dengan cara pelukan dan.....nangis. Iya, nangis. Gue sesayang itu sama mereka berdua. I miss you Des, Ji:(
Ku-li-ah. Yah, masa-masa berat yang lagi gue jalanin waktu gue ngetik entri ini. Masa-masa yang diidam-idamkan oleh anak SMA karena dianggap bebas, ringan dan menyenangkan. Halo, adik-adikku. Ketahuilah, kalo boleh saya putar waktu, saya lebih milih sekolah dibandingkan kuliah, dique. Percayalah, khayalan indah kalian tentang kuliah seperti di FTV akan buyar pada waktunya (lah malah ngomongin kuliah). 
Biarpun kuliah itu lebih berat dibandingkan zaman sekolah dulu, gue tetep bersyukur bisa lanjut ke jenjang ini. Karena disini gue nemuin banyak karakter baru dari temen-temen gue. Yang dulunya gue anggap mustahil, di kuliahan gue nemuin sesuatu yang mustahil itu. Termasuk teman-teman deket gue di kampus sekarang. 
  1. Okky, entahlah ini mah udah bukan sahabat lagi. Gue sama dia udah kayak idung sama upil. Gak bisa dipisahin. Walaupun udah beda kelas, tetep aja kalo ketemu bakal kayak dulu. Gak ada yang berubah. Yang berubah ya paling Okky doang jadi lebih bangsat ngelawaknya. Gak ngerti lagi kenapa gue juga sering banget berantem sama ini orang gara-gara salah paham. Gak penting banget sumpah. Tapi over all, he's my loyal listener yang selalu tau situasi dan kondisi kapan gue butuh solusi dan kapan gue hanya butuh didengarkan. 
  2. Chika. Yah elah, si rempong ini. Males banget bahasnya, menuh-menuhin entri. Karena ngebahas dia doang aja bisa satu full page sendiri. Jadi mendingan skip aja. Kalo mau tau tentang kehidupan gue dan dia, mendingan buka di ask.fm gue, tersebar semua aibnya. 
  3. Diani, yah elah ini juga si baper. Yang paling setia mendengarkan cerita tapi si yang paling pelit bercerita kalo gak dipaksa. Yang paling sabar ngadepin semua ngambek-ngambeknya gue, bahkan lebih sabar dari Okky! W O W. Dayen u're super!
  4. Rafel yang kalo diliat sekilas pasti orangnya ngira dia paling polos. SALAH. Wong ngomongnya taik taik asu. 
  5. Nai. Teman seperjuangan seperkeretaan yang selalu menjadi partner saling membimbing di kereta. 
Entahlah, ini ngetiknya udah capek banget, gak ngerti lagi. Mungkin kalo ada yang kurang-kurang akan gue tambah lain kali. Lagi pula, ini udah cukup mengobati kerinduan gue sama kesayangan-kesayangan gue kok. Karena kalo gak ada mereka, gue gak akan bisa berubah jadi semakin dewasa setiap harinya. Kalo gak ada mereka, gue gak akan pernah dapet pelajaran baru yang berbeda buat memperbaiki diri gue setiap harinya. Terima kasih untuk kalian yang memutuskan untuk tetap ada, untuk tetap mau dibagi keluh kesah oleh saya. Karena sesungguhnya, gue cuma bisa merepotkan. Tapi, sesungguhnya juga, gue sangat sangat sangat sayang sama kalian.



Minggu, 19 April 2015

Yang Disemogakan Saat Hujan

Tik...tik...

Satu per satu rintik hujan jatuh, menimbulkan satu lagi aroma yang akrab ku kenal, selain wangi aroma tubuhmu. Aku, hujan, dan kamu. Kesatuan yang dipertemukan oleh sebuah kebetulan. 

Jumat, 17 April 2015

Buat Aku Tersenyum

Ini bukan mengenai sebuah lagu dari Band legendaris Indonesia,
juga bukan sebuah kalimat paksaan yang membuatmu harus melakukannya. 

Selasa, 14 April 2015

Elevator

Sebayang biru ku lihat berjalan,
lewat dengan cepat, 
tanpa sempat ku berpikir dengan akal sehat, 
karena debar saat melihatmu tak pernah melamban. 

Rabu, 25 Maret 2015

Manipulasi

Terkadang
hidup ini tak terasa sebegitu aslinya
tak terdeteksi dimana letak kebohongannya
Tak hanya sekedar berpura-pura, 
namun setiap memandangnya 
selalu berhasil kusembunyikan

Selasa, 24 Maret 2015

Jangan Tersenyum, Tuan.

Halo, Tuan. 
Apa kabarmu? 
Masih baik kah keadaanmu seperti saat kau simpulkan senyum saat senja tadi? 
Senyum maut yang tiada orang bisa menghindar dari ketenangannya saat kau berikan. 

Kamis, 22 Januari 2015

Being Forgotten.



Mungkin memang sudah bukan masanya, aku
Atau mungkin memang sudah tak pantas lagi dipedulikan
Bagi seseorang yang masanya telah habis, 
Hal itu memang menyakitkan
Karena telah menjadi sebuah hal yang tak diprioritaskan lagi

Bahkan untuk sekedar mengingat nama dan wajahku pun,
kau tak mau
Apalagi jika kau harus menyimpan seluruh memori, 
yang pernah kita ukir bersama, 
berdua.

Sebagai yang telah ditiadakan dari otakmu, 
kini aku menjelma menjadi sebuah kenang-kenangan, 
yang mungkin atau bahkan, 
tak akan pernah kamu tengok lagi.

Terbuang..
Iya, itulah aku sekarang
Telah menjadi serpihan-serpihan sampah kecil, 
dari sebagian kisah hidupmu. 

Aku yang dulu menemanimu melangkah, 
bahkan saat kau tertatih pun, 
aku tetap memapah, 
tetap berjalan bersisian
Walaupun kini sudah tidak lagi

Mungkin kini memang sudah bukan tempatku
Bukan lagi aku yang pantas, 
memapahmu saat kau butuh berjalan jauh, 
saat kau tak mampu berjalan sendiri

Mungkin memang saat ini, 
kau sudah bisa berjalan sendiri, 
atau bahkan berlari
sehingga aku dan bayangan kita berdua dulu, 
tak akan bisa terlihat lagi

Terbuang, 
terlupakan, 
dan tak pernah dipungut lagi

Kamis, 01 Januari 2015

Resolusi 2015

Tahun baru sebenernya momen yang biasa aja, menurut gue. Momen dimana gue melihat di semua socmed banyak post, "makan terakhir di 2014", "begadang terakhir di 2014", "pipis terakhir di 2014" dan sebagainya. Nah, begitu udah ganti tahun juga mulai bertebaran post, "sarapan pertama 2015", "berak pertama 2015-an", dan lain-lain. 

Bukan cuma itu doang sih sebenernya, momen pergantian tahun juga jadi ajang buat orang-orang "Adu Resolusi 2015". Seru-seru sih resolusi orang-orang yang gue baca. Ada yang punya pacar baru, berhasil diet, lepas status jomblo perak, dan yang paling sering adalah, "Be better than 2014". Ehm, gak cuma mereka aja, gue juga punya resolusi di tahun 2015. Iya, resolusi ala-ala gue, kurang lebih begini: