Selasa, 14 April 2015

Elevator

Sebayang biru ku lihat berjalan,
lewat dengan cepat, 
tanpa sempat ku berpikir dengan akal sehat, 
karena debar saat melihatmu tak pernah melamban. 


Selamat malam, Tuan
Ku pandangi punggung yang kian lama menghilang,
tertutup besi-besi elevator.
Hati-hati, Tuan
Tinggalkanlah sesuatu untuk yang menunggu elevator itu kembali, 
barang setapak jejak sepatumu pun tak apa
Tinggalkanlah, sesuatu yang bisa ku lihat
Sesuatu dari kepunyaanmu, 
yang seringkali kau abaikan. 

Percayalah, Tuan
Aku pemerhatimu
Ku tau kau yang seringkali berdiri di sudut kiri 
bersisian dengan besi elevator

Kumohon, Tuan
Lain kali perhatikanlah
Bahwa setiap kali beridirimu di sudut itu
aku ada
Tak jarang ku selalu ada di sudut yang sama
dengan bahu yang tak lagi hanya bersisian
dengan jarak yang tak lagi harus ku jaga
dengan mulut yang terbungkam diam

Selamat malam, Tuan
Percayalah
Berapapun jengkal yang menjadi pemisah
Debaran itu tak pernah melamban
Atau tak pernah mencapai angka normal

Hai, Tuan
Elevator itu mungkin saksi 
Bahwa kita pernah ada di dalam satu dimensi
Bahwa jarak pernah menyatukan
Membuat tinggi tak menjadi masalah
Membuat usia tak lagi pernah ku hiraukan

Selamat malam, Tuan
Keluarlah dari elevator, 
dengan bahu yang tak mempunyai jarak lagi. 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar