Ini bukan mengenai sebuah lagu dari Band legendaris Indonesia,
juga bukan sebuah kalimat paksaan yang membuatmu harus melakukannya.
Tersenyum,
Aku tahu, itu hobimu.
Di setiap ada kesempatan selalu kau lakukan.
Dan pada kesempatan yang sama pula aku melihatnya.
Kamu tahu?
Senyummu candu buatku,
terlebih jika dilengkungkannya tepat di depan mukaku.
Kecanduan,
Iya aku kecanduan.
Bagai kopi dan gula dalam takaran yang pas
Rasanya, senyummu seindah itu
Aku tidak bermaksud membual, Tuan
Senyummu, yang paling indah terulas bersama langit senja
yang kala itu tak lagi merah
Lengkung itu,
yang paling sempurna muncul dikala penerang ingin tenggelam,
dibalik awan, dan kembali esok hari
Hai, Tuan mendekatlah
Kita dalam sebuah gedung yang sama
Berada di atap yang sama
Terkadang hanya memencet tombol elevator yang berbeda
Tuan, mendekatlah
Tularkan kegemaranmu pada gadis yang menaruh hatinya disebelahmu
Yang menunggu hatinya kau ambil dan kau rawat sebaik kau bisa
Tuan, percayalah
Gadis itu hanya ingin senyummu
Ia hanya ingin kau membuatnya bisa tersenyum
Memunculkan sebuah lengkungan indah
yang juga bisa dinikmati oleh sorot mata sayumu
Tuan, yakinilah
Sang gadis tak hanya ingin tersenyum untukmu,
namun ingin tersenyum bersamamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar