Apa kabarmu?
Masih baik kah keadaanmu seperti saat kau simpulkan senyum saat senja tadi?
Senyum maut yang tiada orang bisa menghindar dari ketenangannya saat kau berikan.
Percayalah, Tuan.
Lengkungan bibirmu meninggalkan sejejak bayang dalam benak.
Membuat semua yang melihat tak ingin kehilangannya.
Sebelumnya, aku minta maaf, Tuan.
Karena telah lancang merekam segala yang ada di raut wajahmu kala senja hari ini.
Namun, sungguh.
Aku pun tak ingin membiarkan keindahan itu lenyap begitu saja.
Hai, Tuan.
Taukah kau?
Bahwa lengkungan bibirmu seperti air bah.
Yang tak baik jika dikeluarkan terlalu banyak.
Maukah kau bertanya, mengapa?
Ya, karena bilamana kau terus-menerus merasa senang dengan memunculkan senyum itu di wajahmu, aku bisa tenggelam.
Bahkan hingga napasku terengah.
Namun, terima kasih, Tuan.
Senyum itu, senyum terbaik yang pernah kupandang.
Lengkung tertulus yang pernah kulihat.
Dan, aku mohon, Tuan.
Janganlah lagi kau tersenyum sebegitu indahnya,
dan menatapku sebegitu dalamnya.
Mengapa?
Karena aku takut terjebak jauh,
terlalu dalam di keindahan lengkung bibir yang kau ulas.
Baiklah, Tuan.
Sekiranya kau membaca ini.
Aku mohon dan pinta,
untuk jangan membacanya dengan tersenyum.
Karena setiap lengkung manis itu,
dimanapun kau melakukannya,
aku akan tetap tahu.
Terima kasih, Tuan.
Dan ingat,
jangan tersenyum,
apabila itu tidak diperuntukkan pada hamba,
yang lancang menulis goresan hina ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar