Minggu, 19 April 2015

Yang Disemogakan Saat Hujan

Tik...tik...

Satu per satu rintik hujan jatuh, menimbulkan satu lagi aroma yang akrab ku kenal, selain wangi aroma tubuhmu. Aku, hujan, dan kamu. Kesatuan yang dipertemukan oleh sebuah kebetulan. 


Sebagian orang bilang, hujan itu kelam. Namun, aku memaknainya lain. Hujan tak sekedar air yang jatuh dan membuat semua yang ada di bumi, basah. Hujan lebih dari itu. 

Kehadiran suasana yang tak bisa digambarkan saat cuaca lain yang datang. Kenyamanan yang diberikan, sama persis, ketika aku bersisian denganmu, di bawah kanopi hitam, berdua. Ya, berdua saja. 

Aku ingat, saat buliran air jatuh tepat di atas ubun-ubunku. Kamu, dengan sigapnya menawarkan kedua telapak tangan untuk melidunginya, tanpa pedulikan ubun-ubunmu yang basah karena tak sanggup kututupi dengan telapakku. 

Kamu, yang dulu rela dihujani air langit sebegitu banyaknya hanya demi aku yang tetap kering, kini, sudah bukan kamu yang dulu. Hujan yang turun tetap sama, namun kamu yang berbeda. 

Tak ada lagi yang bersisian denganku kala hujan merintik deras, kala ia menghujaniku dengan ratusan bulir air, seperti membalas dendam. Kini, aku tak lagi tau dimana keberadaan orang yang sering melindungiku itu. 

Hai, kamu? 
Dimanapun kamu, apa kabar? Masihkah gemar memandangi hujan dari jendela kamarmu? Adakah yang lain yang kamu lindungi ubun-ubunnya dari serbuan air hujan yang siap membasahi? Adakah yang lain yang menggantikan aku berdiri di sisimu saat hujan tak kunjung usai? 

Bilamana ada, kurasa aku sudah rela. 
Mungkin, sisimu sudah bukan tempatku. Telapakmu sudah bukan milik ubun-ubunku. 
Bilamana ada dia yang baru, kuharap sisinya lebih nyaman dari aku. 
Hingga kamu bisa kapan saja bersandar di bahunya saat butuh melepas keluh kesah, seperti saat bersama aku.
Semoga dia, tak seperti apa yang kau keluhkan tentang aku, dulu. 
Semoga dia, lebih mengerti kemauanmu, lebih dari aku. Meski aku tak yakin, ada yang bisa.
Semoga dia, bersedia menjadi wadah amarahmu, seperti yang kulakukan setiap hari, dulu. 
Dan semoga pula, dia adalah orang yang selalu bersamamu saat hujan akan datang menyakitimu, semoga dia bisa melindungimu, lebih dari apa yang aku lakukan. 

Karena hujan yang dulu dan kini tetap sama. 
Yang berbeda hanya aku dan dengan siapa aku menunggu hujan di bawah kanopi hitam, kini. 
Dan pada kenyataannya, jauh dari apa yang aku harapkan. 
Yang bersisian denganku kini, sudah bukan kamu. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar