Kamis, 09 Januari 2014

Yang Berselimut Dibalik Senja.

Kepadanya, 
pria senjaku yang sering tetiba menghilang.

Angin senja ini dinginnya menohok sampai tulang. Menyelimuti aku yang sedang mengintaimu dari sini. Kau berjalan, sudut mataku pun. Kau berlari, ekor mataku turut mengikuti. 

Sampai jauh kau lelah menapak jejak. Aku tak henti mengekorimu. Mengikuti kemanapun kakimu melangkah. Walau arah kita kini tak lagi sama.


Ini senja. Aku takut kau kembali hilang dibaliknya. Karena terbiasamu berlari berkejar kunang-kunang, hingga lupa siapa di belakangmu, siapa yang ada di balik semak daun itu. 

Jingganya langit yang menemaniku mengintaimu kini, sudah semakin merah dan gelap. Mentari pun sudah mulai beranjak pulang. Namun kau masih tetap sama, bergeming di puncak bukit menikmati senjamu dan tenggelam di dalamnya. 

Aku tahu senja itu indah, kau menyukainya, dan aku pun. Namun tak sadarkah ada yang lebih menyukaimu melebihi rasa sukamu pada senja? Aku. Aku yang tetap sedia menunggumu di balik dedaunan lebat ini. Semata-mata agar tak lagi kehilangan jejakmu. 

Aku tahu, kegemaranmu duduk disini berselimutkan senja, beratapkan langit jingga, dan disinari redupnya mentari yang 'kan pulang. Aku sama sepertimu. Namun di situasi yang berbeda. Aku selalu nyaman duduk disini, walau bukan di sisimu. Hanya agar aku dapat menikmati siluet tubuhmu dari belakang dengan latar belakang langit senja yang sama denganmu.

Aku tahu kau akan pulang jika senja ini pergi. Oleh karena itu aku tak ingin sekedar menjadi senjamu, yang pergi meninggalkanmu setelah memberi keindahan. Aku ingin selamanya menjadi malam untukmu, yang selalu menemanimu saat kau terjaga. Hingga ku yakini, kau tak berselimut lagi dalam senja. 

Tertanda aku, 
sang malam yang selalu merindu pria senja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar