Rabu, 08 Januari 2014

Menunggu Mentari Setelah Hujan.

Air langit itu jatuh kembali. Basahi tanah, timbulkan wangi yang segar. Ya, aku tak pernah membenci air ini. Aku selalu bisa menikmati tiap tetesnya yang hinggap di bumi. Seakan mengamini doaku agar ia tak pergi. 

Hujan kini, aku dengannya terperangkap dalam situasi asing. Kami hanya terpaku dalam diam, enggan untuk memulai sebuah percakapan yang harusnya dapat menghangatkan. 


Hujan kini, yang membuat aku dengannya berdiri kaku di bawah naungan sebuah bangunan yang melindungi kami dari basah. Menciptakan rasa untuk ingin kembali merengkuh lengan yang kokoh itu di sampingku. Menimbulkan sebuah keinginan untuk saling melempar senyum dengan sang empunya lengan kokoh itu.

Hawa dingin ini, tak seperti biasanya. Tak buatku ingin terlelap, tak membuatku ingin berjalan pulang. Hawa ini menyekapku untuk tetap diam disini, bersanding dengan ia yang masih tetap membisu di sisiku. Bukan, bukan ia yang membisu. Tapi kami. 

Keadaan lah yang merubah segalanya. Dulu kami dipertemukan oleh hujan, dipisahkan oleh hujan, dan saat ini dipertemukan kembali masih dengan suasana yang sama. Sejuk dan tenang.. 

Air ini membawa rindu yang telah terkubur lama dalam tiap lembar kenanganku dengannya. Rindu sosok jangkung yang kini ada di sebelahku. Rindu gurauan, gelak tawa yang tercipta, serta hangat peluk dan ciumnya di keningku. 

Kutatap dada bidang yang ada di depan mataku kini. Ku telusuri tiap garis wajahnya yang tegas. Tersenyumlah, pintaku dalam hati. Hujan ini datang agar kita saling melempar senyum, agar kita saling melempar tatap. 

Ku beranikan diri menatap sepasang mata itu. Hingga lengkungan itu akhirnya hadir. Air wajahnya yang semula dingin, kini kembali membawa kehangatan tersendiri untukku. Aku pun turut menyunggingkan senyumku, ikhlas, dengan penuh rasa rindu. 

Tenggelam dalam senyum, kami tetap bergeming. Sunyi dan masih tidak ada yang ingin mulai bicara. Hawa masih tetap dingin, namun entah mengapa lengkung bibirnya bagai mentari yang hanya bisa menghangatkan aku. 

Masih dalam diam, sesuatu menyelusup ke celah jari-jari tangan kananku. Kutengok, kudapati tangan itu kini menggenggamku erat. Kupandangi wajahnya, masih dengan senyum yang sama. Senyum yang hangat. Memang bukan peluk seperti yang kuinginkan, bukan cium di kening seperti yang aku rindukan. Namun genggaman ini sudah cukup menjadi bukti, bersama hujan yang menjadi saksi, bahwa kami tak ingin terpisah kembali. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar