Kepada Tuan,
yang tak pernah bosan ku usik waktunya.
Terima kasih atas waktumu yang seringkali ku ganggu. Untuk setiap tawa yang tercipta. Untuk terkadang kesal karena gurauan lama.
Tuan,
Biarlah hanya jarak yang terhitung jauh. Namun langit kita tetap sama. Tetap bisa memandang bulan dan bintang yang juga serupa. Dan yang terpenting, tawa kita pun sudi untuk bersama. Walau hanya dalam sambungan teknologi. Walau wajah tak tatap wajah, aku tahu, kau tersenyum saat aku juga. Kau tertawa saat aku pun.
Jarak hanyalah jarak. Kau dan aku masih bisa menempuh itu. Waktu terus berputar. Ku tahu waktu kita akan tiba. Saat untuk jumpa, saat untuk mata bisa saling tatap, saat lengan ini bisa saling rengkuh.
Tuan,
Malamku telah larut, dan ku tahu malammu demikian pula. Terjagalah dalam lindungan-Nya, dengan setiap do'a yang kuhantarkan, dan berselimut cahaya bulan. Terjagalah dalam lelap malam, hingga esok dan seterusnya rajutan yang telah kita buat ini menjadi sempurna. Indah di waktu yang sama-sama tepat. Untukku, juga untukmu.
Tertanda,
aku yang sering mengusik waktu senggangmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar